Cerpen: Veteran Di Kedai Juang
VETERAN DI KEDAI JUANG
Karya: Rio Ananda Andriana
Hari menjelang sore, kawanan burung terlihat beterbangan di langit yang kala itu mulai menjingga, semilir angin pun ikut menambah suasana di Kedai Juang yang sedang Ando dan kawannya singgahi. Sudah menjadi rutinitas Ando dan kawannya untuk mengunjungi Kedai Juang tersebut ketika langit sudah mulai menunjukan warna jingga indahnya, di Kedai tersebut mereka hanya sekadar memesan kopi lalu berbincang perihal perduniawian ataupun hanya sekadar melepas penat dari ambigunya kehidupan. Namun, hari ini nampak ada yang berbeda di Kedai Juang, di samping tempat Ando dan kawannya duduk ada seorang kakek tua yang sedang memegang secangkir kopi hitam ditangannya, hal yang membuat aneh Ando dan yang lainnya adalah kakek tersebut berseragam dinas berwarna hijau yang banyak sekali ditempel berbagai pin dan ia juga memakai topi berwarna kuning.
Ando terlihat masih saja terus menatap si kakek tersebut, ketika Ia sedang menatap tiba-tiba kakek tersebut menatap kembali Ando dengan senyuman di wajahnya, dengan refleks Ando pun langsung memalingkan pandangan wajahnya ke arah yang lain, tapi si Kakek tersebut menyadari bahwa Ando menatapnya dan perlahan kakek tersebut menghampiri Ando dan kawannya yang sedang duduk santai. Ando dan dua kawannya terlihat cukup kaget ketika kakek tua tersebut menghampirinya. Si kakek pun perlahan mulai membuka pembicaraan.
“Nak muda, tadi kakek lihat kalian menatap kakek ya?, apakah ada yang aneh dengan penampilan kakek, Nak?” tanya pelan kakek itu kepada Ando dan kawannya.
Ando dan yang lainnya nampak saling bertatapan satu sama lain, tanda bahwa mereka bingung akan menjawab apa, tetapi terlihat Ando akan menjawab pertanyaan dari si kakek tersebut.
“Iya kek, maaf kami sedari tadi memperhatikan kakek. Kami cuma aneh dan penasaran saja dengan apa yang dipakai kakek, yaitu seragamnya sebab kami belum pernah melihat seragam seperti yang kakek kenakan, begitu kek,” jelas Ando kepada si kakek.
“Oalah, kalian jadi penasaran ya dengan seragam kakek, tetapi sebelumnya kakek ingin tahu terlebih dahulu nama kalian,boleh kan?”
“Boleh kek, perkenalkan nama saya Ando,” ucap Ando.
“Nama saya Dimas.”
“Dan nama saya Cakra,” pungkas Cakra.
“Nama-nama yang bagus, baik sekarang kakek sudah tahu nama kalian, sekarang kakek yang memperkenalkan diri. Perkenalkan nama kakek Buana Surya Kencana,” ucap Kakek Buana kepada ketiga anak muda tersebut.
“Siap kek, salam kenal ya. Nah sekarang kami bertiga ingin tahu seragam apa yang kakek kenakan tersebut,” ungkap Dimas kepada kakek Buana.
“Baik Nak, kakek akan jelaskan ya. Jadi seragam yang kakek kenakan adalah seragam Veteran pejuang kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Veteran sendiri adalah seorang yang pernah berjuang untuk memerdekakan Negara Indonesia dari para penjajah yang haus akan kekuasaan dan kakek termasuk pejuang kemerdekaan Indonesia pada waktu itu, alhasil kakek diberi gelar kehormatan sebagai Veteran, begitu Nak,” jawab kakek Buana dengan jelas kepada mereka.
Setelah mendengar jawaban dari si kakek, Ando, Dimas dan Cakra terlihat kaget dan cukup bengong, karena ternyata mereka sedang berbicara dengan seorang pejuang kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada waktu dulu, hal ini tentu menjadi sebuah keberuntungan bagi mereka, karena dapat berbicara dengan pahlawan yang masih hidup.
“Waw! Keren sekali kakek ini, Aku bangga bisa bertemu dengan kakek Buana.” ucap Cakra sambil menunjukan ekspresi senangnya.
“Betul kek kami beruntung bisa bertemu kakek,” sahut Ando.
“Jawaban yang sangat tak terduga kek, kakek keren pokoknya, bisa menjadi bagian dari yang memperjuangkan Negara ini,” ujar Dimas sambil mengacungkan jempol kanannya.
Kakek Buana terlihat senyum ketika mendengarkan respons dari ketiga anak muda tersebut, betapa bahagianya kakek Buana ketika masih ada anak muda yang menghargai jasanya dalam memperjuangkan hak kemerdekaan Indonesia, di saat banyak anak muda yang tidak menghargai dan lebih memilih untuk cuek.
“Terima kasih ya Nak muda atas apresiasinya, tapi kakek ini hanya sebagian kecil dari mereka yang memperjuangkan hak kemerdekaan Indonesia, masih banyak lagi yang lebih besar jasanya untuk Negeri ini,” Ucap kakek Buana sambil mengusap punggung ketika anak itu.
“Iya kek, tapi kakek ini tetap hebat,” tutur Ando.
“Betul kek, kakek tetap keren kok. Oh iya kek berarti kakek sempat mengikuti perang dong?” tanya Dimas.
“Ya jelas kakek sempat mengikuti perang, waktu itu kakek sempat membela bangsa Indonesia ini dari penjajah Jepang yang bengis dan terkenal karena kekejamannya itu, penjajahan Jepang terjadi sekitar tahun 1941-an dan ketika itu kakek berusia 16 tahun,” jawab kakek Buana dengan jelas.
“Keren banget kek, umur 16 tahun sudah berani melawan para penjajah Jepang,” sahut Cakra.
“Ya jelas kakek berani, karena kakek pada waktu itu berkomitmen untuk membela Negeri ini dari para penjajah walaupun nyawa bayarannya, tapi syukur kakek sampai sekarang ini masih hidup dengan sehat.”
“Oalah gitu ya kek, ngomong-ngomong kesibukan kakek sekarang apa?” tanya Ando.
“Sebenarnya kakek tidak sibuk Nak, maklum kakek sudah sepuh dan ingin menikmati masa tua ini dengan sebaik-baiknya. Namun, kakek tetap ingin bermanfaat bagi sekitar walaupun kakek sudah sepuh diantaranya dengan cara berbagi kisah inspiratif kakek atau mengedukasi para pemuda di zaman sekarang ini supaya tidak buta sejarah, ya seperti sekarang ini kepada kalian bertiga, seperti itu.”
“kakek ini panutan banget, pasti keluarga kakek sangat bangga sekali. Jadi pengen tua kayak kakek Buana,” ucap Dimas sambil tertawa kecil.
“Berbeda itu lebih keren, Dimas,” sahut Cakra.
“Nah betul apa kata Nak Cakra. Oh Iya, kakek ingin tanya kalian, coba sebutkan cita-cita kalian yang dapat membanggakan Negeri ini atau cita-cita kalian untuk berbakti kepada Negeri ini dan jelaskan juga alasannya, kakek ingin tahu sampai mana pemikiran anak muda zaman sekarang.” Tanya kakek Buana kepada ketiganya.
Ando, Dimas dan Cakra pun terlihat semangat ketika mendengarkan pertanyaan dari Kakek Buana tersebut, nampaknya mereka sudah mempunyai cita-cita yang dapat membanggakan Negeri Indonesia ini.
“Saya dulu kek yang menjawabnya,” Sahut Dimas sambil mengacungkan tangan kanannya.
“Boleh, silahkan Nak Dimas.”
“Saya ingin menjadi Dokter Kek, karena suatu saat nanti saya ingin membuka praktik gratis untuk masyarakat yang kurang mampu, sebab saya ingin berbakti kepada Negeri ini dengan cara tersebut,” tutur Dimas dengan lugas sambil tersenyum kepada kakek Buana.
“Keren Nak Dimas, sampai berpikir sampai sana. Semoga kelak cita-cita mu terkabul ya.”
“Aamiin, terima kasih kek.”
“Ayo sekarang giliran siapa?” tanya kakek Buana.
“Saya kek,” ucap Ando.
“Saya dulu aja kek,” sahut Cakra.
Ando dan Cakra nampaknya berebut ingin duluan untuk mengungkapkan apa cita-cita mereka berdua.
“Sudah kakek tunjuk saja ya, silahkan Cakra dulu.”
“Baik kek. Cakra mempunyai cita-cita yaitu ingin menjadi Guru, sebab jasa dari seorang guru itu besar dan Cakra ingin menjadi seperti guru besar Cokroaminoto yang melahirkan murid hebat salah satunya Presiden Soekarno, dengan menjadi seorang guru-lah Cakra ingin mewujudkan cita-cita Negeri ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar Cakra.
“Hebat Cakra, semoga terwujud apa yang kamu impikan tersebut. Bagus kan Cakra dan Cokro,” ucap kakek Buana sambil tertatawa kecil.
Seketika suasana berubah menjadi tawa, Ando, Dimas dan Cakra pun tertawa ketika mendengar ucapan ‘Cakra dan Cokro’ keluar dari mulut kakek Buana. Namun, tawa itu mulai terhenti ketika Ando mulai berbicara.
“Kek, sekarang tinggal saya ya.”
“Iya Ando, Silahkan Nak.”
“Baik Kek, Kelak saya ingin menjadi seorang Presiden, mungkin terdengar mustahil, tapi itulah yang saya inginkan sedari kecil, orang bisa saja berkata mimpimu terlalu tinggi, tapi tak ada mimpi yang terlalu tinggi yang ada kemauanmu saja yang terlalu rendah. Dengan menjadi seorang presiden saya akan berbakti kepada negeri dan mewujudkan segala cita-cita Negeri ini dengan sekuat yang saya bisa. Mungkin itu Kek, makasih,” ucap Ando dengan nada yang sangat yakin.
“Kakek tak bisa berkata apa-apa. Ando kamu luar bisa, betul sekali apa yang kamu sampaikan tadi Nak.”
“Iya kek terima kasih.”
“Kalian bertiga memang anak muda yang cerdas dan memiliki pemikiran yang visioner, pemikiran kalian jauh ke depan, kelak hal itulah yang membawa kalian menuju kesuksesan. Benar sekali ya bahwa untuk berbakti kepada negeri ini di zaman sekarang tak usah dengan perang seperti yang dulu kakek lakukan karena hal tersebut sudah tak relevan dengan zaman sekarang, berbakti kepada Negeri di zaman sekarang salah satunya dengan cara bercita-cita seperti yang telah kalian ungkapkan, ada yang ingin jadi Dokter, Guru atau bahkan Presiden, Ketiganya merupakan cita-cita yang dapat membanggakan negeri ya Nak. Percayalah jika kalian bercita-cita seperti yang telah kalian ucapkan tadi, kalian akan menjadi orang besar dan orang yang dapat dikenang oleh orang banyak. Kakek akan pegang omongan kalian tadi dan menunggu cita-cita kalian tersebut terwujud di masa yang akan datang,” Jelas kakek Buana
“Siap kek, pasti terwujud!” ujar Cakra tegas.
“Oke kakek, pasti Dimas akan mewujudkan cita-cita itu.”
“Baik kek, Saya siap!” ucap Ando
“Keren!, karena waktu juga sudah mau malam Kakek izin pamit ya, terima kasih atas obrolannya, Kakek senang bertemu dengan kalian dan kakek akan selalu ingat kalian,” ucap kakek Buana sambil berdiri.
“Makasih juga kakek, terima kasih atas wejangan yang telah diberikan kepada kami dan kami juga tidak akan melupakan kakek kok, tunggu saja kek, pasti cita-cita kami bertiga akan terkabul demi mewujudkan cita-cita bangsa ini untuk menjadi lebih baik,” Ujar Ando sambil bersalaman dengan kakek Buana diikuti oleh Dimas dan Cakra, kakek Buana hanya tersenyum sambil menerima salaman dari mereka bertiga.
Setelah mereka selesai bersalaman, perlahan kakek Buana pun meninggalkan kedai juang tersebut, lalu menghilang untuk pulang. Ando, Cakra dan Dimas nampaknya sangat bahagia, karena dapat bertemu dengan seorang Veteran pejjuang Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dan dapat mengobrol di kedai juang perihal masa depan mereka. Sekarang mereka bertiga mendapatkan ilmu baru dari kakek Buana dan mereka menjadi lebih memahami makna dari berbakti kepada Negara ini.

Komentar
Posting Komentar