Narasi : Akara
Bayanganmu seakan berteriak mengikuti langkahku. Jika aku berlari, bayanganmu ikut berlari dan jika aku berhenti, bayanganmu mendekati. Namun, semuanya hanya fiksi, tak ada fakta yang mengakui. Aku yang masih berharap kepadamu dan kamu yang masih meninggalkan bekas pijakanmu. Hal tersebut sungguh membuat pikiranku rancu.
Dunia seakan bersuara, bahwa bayangan saja yang dapat hilang sewaktu-waktu masih bisa meninggalkan bekas yang sangat amat dalam di ingatan. Ya, memang benar bayangan itu semu, aku yang terlalu mengharapkan sesuatu dari dirimu dan kamu pergi tanpa pamit. Bodoh memang, aku terlalu berlebih dalam hal menginginkan sesuatu yang tak pasti.
Bayangan memang menjadi saksi bisu ketika kita pernah merangkai memori bersama dan memori itu sialnya terus teringat dalam otakku. Semoga bayangan ini akan kehilangan sinar selamanya dan aku bisa beristirahat dalam ketenangan tanpa bayang dan sinar. Aku akan lebih tenang jika gelap bersamaku.
Penulis : Rio Ananda Andriana

Komentar
Posting Komentar