Narasi : Menggauli pukul 12 malam
Kalian tahu? Aku orang yang suka dengan malam hari dan aku menyebut diri sendiri sebagai manusia nokturnal, menurutku malam lebih baik daripada siang. Persetan dengan siang hari, dia hanya membuatku lelah dan stress dalam menjalani kehidupan, banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan di tengah kebodohan manusia, aku tidak suka hal itu, tapi realita menuntutku untuk menjalaninya, ya sialnya itu.
Jujur saja malam memang waktu paling baik dan ramah yang aku kenali, dia menyimpan banyak rahasia, aku suka akan hal itu. Oh ya, dia juga memiliki sifat yang tenang dan damai untuk aku menjalani aktivitas kehidupan, itu membuatku candu dengannya, sampai-sampai aku rela untuk begadang hanya untuk menghabiskan waktu bersamanya. Satu hal lagi yang membuatku nyaman dengan malam hari, dia selalu membuka otakku untuk berpikir lebih dalam dan disaat itu juga beragam ide yang luar biasa kerap kali bermunculan. Entahlah, ku kira tempat terbaik untuk berpikir itu toilet dan waktu terbaik untuk berpikir adalah malam, bayangkan saja kamu pergi untuk BAB ke toilet di malam hari, pasti enak dan nikmat sekali kawan! Kamu wajib mencobanya, jujur tidak ada suasana seram, ya kecuali kalau di toiletmu itu ada kuntilanak yang menunggu.
Namun, malam yang aku maksud adalah malam ketika jam menunjukkan pukul 12 malam atau lebih. Jujur saja, itu waktu malam yang paling nikmat dan tenang, apalagi pukul segitu kebanyakan manusia sudah tidur untuk memenuhi hasrat istirahatnya setelah menjalani kehidupan bodoh pada siang hari. Pada pukul 12 juga entah kenapa aku selalu memikirkan hal yang di luar nalar, ya misalnya tentang bagaimana jika dunia yang kita jalani sekarang ini merupakan mimpi yang sedang kita alami di dunia nyata yang sedang kita hidupi, terdengar aneh bukan? Entahlah, itu contoh pemikiranku ketika jam 12 menyerang. Ya, yang jelas aku hanya ingin menyampaikan bahwa jam 12 malam itu paling asyik untuk kita gauli, tetap merdekakan jam 12 malam, karena begadang tidak mengurangi umurmu, tapi mengurangi jatah tidurmu.
Penulis : Rio Ananda Andriana

Komentar
Posting Komentar