Narasi : Rasa

Sumber : pinterest

Jam dinding terus berdetak di setiap detiknya, berbeda dengan detak jantungku, detakannya tidak konstan dan tak berirama. Entah apa dan kenapa setiap duduk di dekatmu hal ini terus berulang dan terulang. Hati memang tidak pernah berbohong. Hanya saja kerap kali aku menyembunyikannya, bukan tidak mau, tapi bukan saatnya.

Matamu menarik hatiku untuk terjatuh layaknya sebuah apel yang jatuh dari pohon dengan kekuatan gravitasi. Persis, tapi tak sama. Aku kira itulah analogi sederhananya. Entah terdapat magnet seperti apa yang bertempat di pelupuk matamu sehingga aku tertarik ke jurang kasmaran. Padahal kamu perempuan sederhana yang aku kenal.

Ya, sederhana. Itu salah satu kata yang terlintas dipikiranku ketika melihatmu, layaknya uang yang hanya bentukan selembaran kertas, tapi ia sangat berharga. Kamu juga berharga bagiku, tapi bukan berharga seperti yang terdefinisi dari uang, karena berharga itu tidak selalu rupiah kan?

Kurasa biarlah waktu yang berbicara, aku tidak ingin terlalu memaksakan hati untuk menyampaikan rasa, biarlah kita menjadi apa yang dicita-citakan terlebih dahulu. Dan kelak kita bertemu di puncak takdir terindah menurut Tuhan.


Penulis : Rio Ananda Andriana

Komentar

Postingan Populer