Satu Guru Tiga Ideologi

Ada yang pencinta anime? Terkhusus anime Naruto. Siapa sih yang tidak kenal anime buatan Masashi Kishimoto ini, anime yang sangat populer di Indonesia selain daripada one piece. Dalam serial Naruto apakah kalian pernah mendengar istilah Sannin legendaris? Nah, Sannin legendaris dalam Naruto merupakan tiga orang murid dari Hiruzen Sarutobi, ya Hokage ke-3 di Konohagakure, tiga orang Sannin tersebut adalah Jiraiya, Tsunade dan Orochimaru. Ketiganya mempunyai jalan masing-masing, terlebih diceritakan ketika itu Orochimaru menjadi musuh Konoha.

Ternyata di Indonesia juga ada Sannin legendaris loh, yaitu Soekarno, Muso dan Kartosuwiryo. Lah kenapa bisa meraka? Oke simak penjalan Saya berikut ini!

Sumber : Google

Dalam sejarah bangsa Indonesia, sudah kita ketahui bahwa Soekarno, Muso dan Kartosuwiryo merupakan murid dari Oemar Said Cokroaminoto. Nah, Cokroaminoto ini merupakan Guru Bangsa yang melahirkan banyak murid-murid luar biasa yang dapat melahirkan warna-warni dalam pergerakan bangsa Indonesia, murid-muridnya tersebut, yaitu Soekarno, Muso, Kartosuwiryo, Semaoen, Alimin dan bahkan Tan Malaka pun pernah berguru kepada beliau.

Semua muridnya tersebut pernah tinggal di kostan milik Cokroaminoto, di kostan tersebut mereka menimba ilmu kepada Cokroaminoto. Diantaranya yang paling dekat adalah Soekarno, Muso dan Kartosuwiryo, mereka kerap kali berdiskusi bahkan berdebat ketika pemikiran mereka berbeda. Singkat cerita, setelah meninggalnya Cokroaminoto, mereka bertiga mempunyai ideologinya masing-masing dan memilih untuk berbeda pandangan.

Ideologi apa sajakah itu?

Soekarno dengan Nasionalisme-nya, Muso dengan Komunisme-nya dan Kartosuwiryo dengan Islam Radikalisme-nya. Satu dari ketiga Sannin Indonesia itu menjadi Presiden RI pertama, yakni Soekarno. Soekarno berhasil membangun negeri ini dengan sangat Nasionalis. Namun, kedua sahabatnya itu, yakni Muso dan Kartosuwiryo bertolak belakang dengan cita-cita Soekarno dan ingin memberontak, tujuannya tentu saja ingin menyebarkan ideologi yang mereka punya. 

Yang pertama memberontak, yaitu Muso dengan ideologi komunisme-nya. Pada tanggal 3 Agustus 1948, Muso kembali ke Indonesia setelah dia menetap lama di Uni Soviet sejak 1926, di Uni Soviet, tentu saja Muso mempelajari dan memperdalami terkait komunisme. Singkat cerita, sepulangnya Muso dari Uni Soviet ternyata ada tujuan lain, yaitu untuk menyebarluaskan ideologi Komunisme di Indonesia, oleh karena itu pada tanggal 18 september 1948 terjadi pemberontakan PKI Madiun, pemberontakan ini dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat atau FDR yang terdiri atas PKI, Partai Sosialis Indonesia, Partai Buruh Indonesia, dll.

Nah, pemberontakan ini dipimpin leh Muso dan Amir Syarifuddin yang pada saat itu lengser dari kabinetnya dan digantikan oleh Mohammad Hatta. Selanjutnya, PKI memproklamirkan 'Republik Soviet Indonesia' di Madiun dan Pati. 
Namun pada akhirnya pemberontakan ini bisa ditumpas. Muso di tembak mati di Sumoroto dan Amir beserta yang lainnya dihukum mati di Grobogan, Jawa Tengah. Begitulah, sekilas pemberontakan dari Muso yang ingin menyebarluaskan ideologi 'komunisme' di Indonesia dan menolak ideologi dari sahabatnya, yaitu Soekarno yang berideologi nasionalisme.

Lanjut? Lanjutlah ya, mari simak baik-baik pemberontakan dari Kartosuwiryo!

Yang kedua memberontak adalah Kartosuwiryo dengan ideologi islam radikalisme-nya. Terjadi pemberontakannya oleh Kartosuwiryo ini dilandasi atas ketidakpuasannya terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, dimana pada saat itu Indonesia masih dibayang-bayangi oleh pemerintahan Belanda, selain itu Kartosuwiryo juga menentang perjanjian renville, dimana perjanjian ini hanya menguntungkan Belanda dan merugikan Indonesia, termasuk daerah Jawa Barat. Oleh karena itu, Kartosuwiryo membentuk NII atau Negara Islam Indonesia sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Belanda sekaligus Indonesia yang sangat lemah pada saat itu, lalu dia juga mendirikan TII atau Tentara Islam Indinesia yang membuat pengaruhnya semakin besar untuk menentang. Namun, pada akhirnya pemberontakan DI/TII ini pun dapat teratasi oleh kodam siliwangi dengan taktik pagar betisnya dan operasi brata yudha untuk menangkap Kartosuwiryo. 

Nah, pada september 1962 Soekarno pun menandatangani vonis hukuman mati sahabatnya itu, ya Kartosuwiryo dihukum mati atas perbuatannya yang telah melakukan pemberontakan DI/TII. Dan surat eksekusi ini pun menjadi satu-satunya surat eksekusi mati yang ditandatangi Soekarno, jelas saja Soekarno menangis, karena memang Soekarno sangat dekat dengan Kartosuwiryo ketika muda, tapi pada akhirnya takdir berkata lain, Kartosuwiryo harus dihukum mati atas persetujuan dari Soekarno. Dan pada tanggal 5 september 1962, Kartosuwiryo dieksekusi mati di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Begitulah sejarah dari tiga sahabat yang satu perguruan, tapi berbeda Ideologi. Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari sejarah mereka bertiga ini. Terima kasih telah membaca tulisan saya, semoga bermanfaat, segala masukan, saran bahkan kritikan boleh disampaikan di kolom komentar.


Penulis : Rio Ananda Andriana

Komentar

Postingan Populer