Bahasan Ringan Ekofeminisme: "Relasi Alam dan Perempuan"

    

sumber gambar: koran-jakarta.com


Halo gais! Semoga kita senantiasa diberikan kebahagiaan lebih banyak daripada kemelaratan ya. Sudah lama nih gak posting tulisan di blog. Kayaknya enak juga nih kalau aku bahas terkait Ekofeminisme, soalnya baru-baru ini aku belajar terkait hal itu dan ya seperti biasa aku ingin memberikan sedikit pengetahuan dan ilmu yang aku miliki ke kalian,  ya walaupun aku masih fakir banget dalam ilmunya. So, tentu saja, apa yang ingin aku sampaikan dalam postingan ini merupakan kolaborasi dari ilmu yang aku dapatkan dari berbagai sumber, bukan sekedar internet ya, tapi aku juga ngobrol langsung dengan orang yang memang paham dan merasakan langsung secara realitas. Oh ya, pembahasan ekofeminisme ini akan aku bahas sesuai dengan yang aku paham dan akan aku sajikan dengan sesederhana mungkin, karena jujur istilah ekofeminisme sulit untuk dimasukan ke dalam terminologi awam. Oke tanpa perlu berlama-lama lagi yuk kita bahas!


Ekofeminisme terdiri dari dua kata, yaitu ekologi dan feminisme. Ekologi sendiri dalam hal ini bisa diartikan sebagai rumah yang makhluk hidup tempati, namun dalam artian lebih luas lagi, bahwa ekologi itu adalah lingkungan yang kita pijak sekarang karena di dalamnya terdapat Sumber Daya Alam dan ekosistem lainnya. Sementara feminisme sendiri merupakan sebuah paham atau gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesetaraan dan keadilan hak perempuan dalam menentang segala budaya patriarki yang menindas, serta pada dasarnya menginginkan kesetaraan gender terlebih dalam mendapatkan hak akses yang sama pada semua gender. Nah, itulah arti dari ekologi dan feminisme.


Sebenarnya kompleks sekali kalau mempersoalkan terkait ekofeminisme ini, ini yang aku tahu setelah mendengarkan dan diskusi dengan beberapa orang yang concern ke ekofeminisme ini dan ya ekofeminisme merupakan cabang dari feminisme tersendiri, karenanya tujuan dan fokusnya juga sama, tapi ruang pandangan yang membedakan, karena tentunya ekofeminisme ini lebih secara rinci menjurus ke satu persoalan. Oke, aku ngingetin lagi, bahwa yang aku tulis ini berdasarkan yang aku pahami dan tulisannya pun dibuat sesederhana dan seringan mungkin.


Jadi ekofeminisme merupakan suatu cara pandang yang menyatakan bahwa adanya suatu keterkaitan antara perempuan dan alam semesta, di mana ketika alam dieksploitasi, dihancurkan, atau dirusak oleh kaum patriarki dan yang lainnya dengan model kapitalisme atau semacamnya, maka hal itu sama saja merusak perempuan (tubuh). Dalam hal ini ekofeminisme menyuguhkan suatu cara pandang bahwasannya, bumi itu seperti seorang ibu yang melahirkan banyak peradaban. Singkatnya bumi itu ibu atau alam itu ibu. Oleh karena itu, ekofeminisme menjawab kebutuhan dalam melindungi bumi dengan jalan yang perempuan yakini. Ekofeminisme juga mencoba untuk lepas dari belenggu patriarki dengan melawan dan menentang segala hal yang melanggengkannya, dalam hal ini berarti seperti perusakan alam oleh monster besi (ekstraktivisme).


Aku pernah bertanya atau gak bisa disebut ngobrol juga sih bareng satu pejuang hak perempuan yang berasal dari NTT, kita ngobrol melalui platform zoom, pada saat itu dia bercerita terkait ketidaksetaraan dan penguasaan patriarki di Desanya. Contohnya adalah kaum laki-laki di sana banyak membuka akses hutan terlebih dahulu dan para kaum perempuan hanya disuruh untuk memasak di dapur, tanpa kita sadari hal tersebut masuk ke dalam budaya patriarki. Itu yang aku dengar langsung dari beliau. Hal ini menunjukkan, bahwasannya patriarki masih terus langgeng di Indonesia. Namun, beliau kembali menjelaskan kepada saya terkait dengan solusinya, jadi beliau tuh kayak bikin suatu lingkar diskusi gitu, untuk membahas terkait persoalan ini, alhasil lambat-laun desa itu mulai pudar dari belenggu patriarki, ini secara singkatnya ya, yang jelas pas aku dengar ceritanya beliau, aku terenyuh banget dengan perjuangannya yang lama dan hasil dari perjuangannya masih terasa sampai saat ini di desa itu. Nah, perjuangan beliau ini termasuk ke dalam ekofeminisme gais! Dalam artian, beliau sudah menerapkan cara pandang ekofeminisme ini secara langsung, bahwa perempuan juga bisa nih masuk hutan dengan akses pertama dan membuktikan bahwa perempuan dekat dengan alam. Oleh karena itu yang namanya ekofeminisme ini bukan mitos ya!


Rumit gak sih?


Kalau rumit, intinya begini, ketika kamu masih menjaga adat dan kearifan lokal di daerahmu, seperti berladang atau merawat hutan dengan tradisi tertentu itu bisa disebut ekofeminisme, contoh lainnya ketika kamu menanam satu pohon di halaman rumah, terlebih bareng ibu kamu itu juga merupakan ekofeminisme. Itu menurut konklusi yang aku pahami ya, adapun Menurut Francoise d’Eaubonne dalam bukunya yang berjudul Le Féminisme ou la Mort (1974), ekofeminisme menghubungkan penindasan dan dominasi kelompok pada semua aspek , dalam hal ini perempuan, ras, bahkan anak-anak dengan eksploitasi dan penguasaan alam, nah ini sekiranya definisi yang paling ajeg dari seorang pejuang ekofeminisme, yaitu Francoise d’Eaubonne. Ya, Sesederhana itu yang ingin aku sampaikan gais. Emang singkat banget ya, tapi semoga ilmunya dapat bermanfaat luas.


Ekofeminisme berarti,

"Ketika ruang hidup perempuan dirampas dan atau dihancurkan, perempuan menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan, termasuk ketidakadilan gender. Kemiskinan berkepanjangan merupakan salah satu konsekuensinya."

- Mia Siscawati


Mungkin itu saja yang bisa aku bagikan sebagai laki-laki, jika banyak kekurangan mohon maaf. Anw, ini menurut pemahamanku ya, jadi gak pakai sumber, aku dapat dari berbagai diskusi, tontonan, dan bacaan. Intinya, jika ingin memahami lebih lanjut silahkan cari sumber lain gais, makasih ya dan salam sehat!


Ehhh ehhh, tahu gak sih kenapa aku bahas soal ekofeminisme ini, ya karena aku tertarik banget soal isu ginian ya gais, makannya ku tulis di blog. Okede thank you lagi buat yang udah baca. Panjang umur perjuangan bagi perempuan maupun laki-laki!



Penulis: Rio Ananda Andriana

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer