Melihat Nilai Kehidupan Esensial Dari Korelasi Antara Pandemi Covid-19 dan Kesehatan Mental Bagi Mahasiswa
Virus Covid-19 atau yang biasa kita kenal virus corona adalah virus yang menyerang sistem pernafasan manusia melalui percikan dahak dan kontak fisik secara langsung dengan penderitanya. Virus ini pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China, pada akhir tahun 2019, sampai saat ini keberadaan virus corona masih menghantui beberapa negara, termasuk Indonesia. Ya, Indonesia masih berjuang untuk memberangus virus ini walaupun kemarin sempat mereda, tapi di pertengahan tahun 2022 ini ternyata virus corona kembali merebak di beberapa daerah. Virus corona ini sudah kita ketahui bersama memiliki dampak yang dapat merubah pola di berbagai sektor dalam kehidupan, termasuk sosial. Beberapa bulan kemarin, kehidupan masyarakat Indonesia sangat terbatas, sebab adanya regulasi dari pemerintah pusat maupun daerah terkait dengan PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Sekarang regulasi PPKM tersebut memang sudah longgar dan masyarakat Indonesia di berbagai kota kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ada yang mulai bekerja di kantor, ada yang mulai belanja di pasar swalayan, bahkan mahasiswa pun akhir-akhir ini melakukan pembelajaran secara luring. Beberapa kampus memang ada yang sudah menerapkan sistem pembelajaran luring sepenuhnya, ada juga yang gabungan luring dan daring, dan ada juga yang masing sepenuhnya daring.
Sudah kita ketahui bahwasannya pergaulan sosial dalam lingkup mahasiswa itu sangat diperlukan, karena pada saat kita sudah menginjak bangku perkuliahan, tentu saja yang namanya relasi itu harus diperluas. Namun, realita yang sekarang sedang beberapa mahasiswa alami berbanding terbalik dengan ekspektasi yang diinginkan. Sekarang, interaksi sosial kebanyakan dilakukan secara daring, tidak ada kontak secara langsung, hal itulah yang membuat mahasiswa perlu mempunyai adaptasi yang lebih cepat, tapi kerap kali hal ini membuat para mahasiswa stres dan memikirkan hal-hal diluar nalarnya, terlebih pembelajaran pun kebanyakan dilakukan secara daring, sehingga kesehatan mental mereka akan lebih rentan terganggu. Hal itulah yang perlu menjadi perhatian khusus bagi kita mahasiswa Indonesia. Namun, pandemi Covid-19 ini tidak semena-mena memunculkan hal yang negatif saja, seperti rentan terjadinya gangguan mental pada kalangan mahasiswa. Gangguan mental memang hal yang negatif, tapi dalam tulisan ini saya akan mengupas nilai esensial dari korelasi antara virus corona dan kesehatan mental mahasiswa, dengan melihat nilai esensial dari perspektif psikologis. Tentu saja, akan banyak hal yang memberikan pelajaran hidup bagi mahasiswa untuk sekarang dan seterusnya.
PEMBAHASAN
Pandemi Covid-19 bukan hanya menyerang kesehatan fisik, tetapi juga menyerang kesehatan mental atau psikologis bagi para mahasiswa, bagaimana tidak di tengah interaksi sosial yang terbatas dan hanya mengandalkan media daring, mahasiswa pun ditekan dengan berbagai problematik dalam hal penugasan yang cukup berat, belum lagi persoalan di luar pendidikan. Oleh karena itu, tentu saja hal ini menjadi sebuah urgensi bagi kita semua di tengah cobaan pandemi corona yang tak kunjung selesai ini. Lantas, hal tersebut juga membuat mahasiswa mengalami ambiguitas. Di saat kesehatan fisik patut diwaspadai, di situ juga kesehatan mental perlu dijaga. Pandemi corona ini tentu saja sangat berhubungan sebab-akibat dengan kesehatan mental. mahasiswa seolah mempunyai dua beban yang ditanggung, bagaimana tidak edukasi perihal kesehatan mental ini masih tabu dalam pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut senantiasa beradaptasi lebih cepat. Namun, pada kondisi sekarang ini, tentu saja sangat rumit, bukan persoalan kurang edukasi saja, tapi atensi dari para mahasiswa pun cukup kurang. Namun, bagi saya tetap saja yang menjadi salah satu faktor signifikan dari terjadinya gangguan mental disaat pandemi ini adalah perkuliahan yang dilaksanakan secara daring.
Sebuah penelitian yang berjudul "Social Media Fatigue Pada Mahasiswa Di Masa Pandemi Covid-19: Peran Neurotisisme, Kelebihan Informasi, Invasion of Life, dan Kecemasan" dalam Jurnal Psikologi Sosial (Juni, 2020) terbitan Gunadarma, menyebutkan, bahwa salah satu kasus gangguan mental yang terjadi adalah Social media fatigue, dimana social media fatigue ini adalah perasaan subjektif pengguna media sosial yang merasa lelah, jengkel, marah, kecewa, dan kehilangan minat, atau motivasi berinteraksi di berbagai medsos karena banyaknya konten yang ditemui. Dalam penelitian ini sudah kita ketahui bahwasannya mahasiswa Indonesia sudah lelah akan pembelajaran daring ini, terlebih pada saat belajar, mahasiswa harus berjam-jam melihat layar laptop dengan zoom yang sedang mereka jalani. Hal inilah yang nantinya bisa berdampak juga pada stres dan depresi yang berlebihan pada mahasiswa.
Gangguan mental tersebut tentu saja sudah dapat divonis sebagai salah satu dari akibat diadakannya pembelajaran onine secara terus-menerus, dan hal ini juga sangat berkorelasi dengan pandemi virus corona yang notabene membuat segala sistem pendidikan yang ada di Indonesia mengejawantah menjadi daring. Memang hal ini merupakan kebijakan dari pemerintah yang harus selalu kita patuhi demi kebaikan bersama. Namun, tetap saja hal tersebut wajib diimbangi dengan Mahasiswa yang harus selalu bisa beradaptasi dengan cepat, sehingga tidak timbul rasa panik berlebihan ketika menghadapi keadaan yang sedang terjadi seperti sekarang ini, rasanya cukup sulit memang menyatukan antara dua hal yang sebelumnya tidak pernah dikolaborasikan, tapi kita semua tak bisa menyalahkan salah satu pihak, karena kita harus bersama-sama mengentaskan pandemi ini.
Lantas, ketika kita berbicara perihal kehidupan yang terjadi pada saat ini, sudah seharusnya kita memantik berbagai pelajaran yang ada. Tidak dipungkiri memang jika pandemi Covid-19 ini menghancurkan segala aspek dan juga memunculkan sesuatu hal yang tidak diinginkan, termasuk menjadi rentannya mahasiswa mengalami gangguan mental, seperti contoh di atas, yaitu social media fatigue yang berujung pada timbulnya stres dan depresi, memungkinkan juga terjadinya bunuh diri pada mahasiswa. Namun, kita tidak boleh memakan mentah-mentah yang buruknya saja, memang yang kebanyakan terjadi adalah hal negatif. Namun, di sisi lain kita juga harus memetik pelajaran hidup yang sangat luar biasa dari virus corona ini, terlebih dalam pembahasan esai ini yang akan memetik nilai esensial dari virus corona yang berkorelasi dengan kesehatan mental di kalangan mahasiswa dan beberapa nilai esensial ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa dalam menjalani kehidupan di masa pandemi seperti sekarang ini maupun di masa yang akan datang. Oleh karena itu, saya akan memaparkan beberapa nilai esensial yang dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran Mahasiswa yang erat kaitannya dengan kesehatan mental, yaitu :
1. Self-awaraness
Self-awaraness atau kesadaran diri adalah keadaaan seseorang yang mampu memahami kondisi dirinya sendiri dan mampu mengontrol emosi sesuai dengan keadaan sekitarnya, self-awaraness ini merupakan suatu pelajaran bagi kita sebagai seorang mahasiswa yang tengah rancu akan pandemi ini. Pandemi corona mengajarkan mahasiswa akan pentingnya self-awaraness untuk selalu menjaga kesehatan fisik maupun mental, oleh karena itu self-awaraness ini salah satu pelajaran hidup yang dapat mahasiswa tuai pada kondisi saat ini, serta dapat menghindari mahasiswa dari terjadinya gangguan mental, karena self-awaraness ini merupakan pelajaran paling utama yang bisa kita petik dari korelasi antara pandemi corona dengan kesehatan mental ini sebelum kita mengerti apa pelajaran hidup selanjutnya, oleh karena itu kesadaran diri ini sangat dibutuhkan bagi seorang mahasiswa sekarang ini.
2. Self-improvement
Self-improvement atau pengembangan diri merupakan segala bentuk tindakan yang diambil untuk meningkatkan kesadaran diri, bakat, kemampuan, keterampilan bahkan kualitas hidup untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Self-improvement ini tentu saja menjadikan nilai pelajaran dari pandemi corona yang sedang menyerang. Mahasiswa seharusnya sadar akan pelajaran hidup ini, sebab ketika mereka sedang dilanda keruwetan dengan tugas yang cukup memacu energi otak di tengah pandemi ini, di situlah Mahasiswa seharusnya menyadari pentingnya pengembangan diri supaya hal yang saat ini dialami bisa diselesaikan dengan semestinya. Pengembangan diri juga dapat menjadi salah satu solusi Mahasiswa untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental, karena self-improvement akan selalu membawa mahasiswa ke ranah pemikiran positif.
3. Self-regulation
Self-regulation atau dalam bahasa Indonesianya adalah regulasi diri merupakan upaya individu untuk mengatur diri, menyeleksi, dan memanfaatkan lingkungan maupun menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas belajar. Dalam hal ini, self-regulation sangat relevan dengan pandemi Covid-19, karena memang sudah seharusnya mahasiswa menyadari pentingnya dalam mengatur diri. Bahkan, dalam sebuah artikel terbitan situs frontiersin yang berjudul “Self-Regulation In The Time of Lockdown” menyebutkan, bahwa self-regulation disaat pandemi ini sangat bagus untuk menurunkan tingkat kecemasan seseorang. Dalam hal itu dapat saya konklusi kan juga bahwasannya mahasiswa sangat penting menerapkan regulasi diri ini guna menurunkan rasa cemas pada saat pembelajaran. Self-regulation ini bukan hanya untuk kondisi sekarang saja yang notabenenya bisa mencegah dari terjadinya gangguan mental, seperti social media fatigue, tetapi mahasiswa dapat memantik self-regulation ini juga sebagai bahan ajar hidup untuk kedepannya, sebab self-regulation ini bukan hanya persoalan ketika menjadi mahasiswa saja, tetapi pada saat berkecimpung di dunia kerja pun sangat dibutuhkan.
4. Self-defense
Menurut ahli psikologi dari Dandiah Consultant, yaitu Diah Mahmudah, beliau menjelaskan bahwa self-defense adalah pertahanan diri sebagai bentuk supaya bisa adaptif atau menyesuaikan diri dari tekanan dan lingkungan yang kita hadapi. Karenanya, self-defense ini erat kaitannya dengan kondisi pandemi sekarang dan sangat relevansi dengan kesehatan mental juga, dimana para mahasiswa harus bisa membuat pertahanan diri dari segala bentuk hal yang dapat mengganggu kesehatan mental maupun kesehatan fisik secara umumnya. Oleh karena itu, self-defense ini sangat penting bagi mahasiswa, karena supaya mereka tetap bisa menjaga diri dan terhindar dari gangguan kesehatan mental yang dapat tiba-tiba menyerang, seperti social media fatigue. Hal inilah yang mendasari, bahwa self-defense adalah nilai esensial bagi kehidupan mahasiswa untuk sekarang maupun kedepannya.
5. Self-love
Self-love atau mencintai diri sendiri adalah perwujudan penghargaan terhadap kebahagiaan diri yang mengingatkan pada nilai dan kebutuhan. Para mahasiswa wajib menerapkan pelajaran dari pandemi yang satu ini, yaitu self-love, Mahasiswa wajib mencintai diri sendiri di kala semuanya sedang mengalami keterbatasan, termasuk keterbatasan dalam hal pemahaman pelajaran, hal ini tentu saja akan menggangu kesehatan mental, oleh karena itu pelajaran yang terbaik dari hal itu adalah self-love. Ya, mahasiswa pasti mendapatkan pelajaran satu ini, sebab dalam kondisi pandemi seperti ini mahasiswa lebih tahu akan kekurangannya dengan realistis, dari sinilah peranan self-love penting untuk menyembuhkan kembali berbagai luka yang pernah atau sedang dialami dan tentu saja self-love ini sangat relevansi dengan kesehatan mental Mahasiswa.
6. Self-reward
Self-reward atau memberi penghargaan kepada diri sendiri adalah bentuk dari self-love juga, bisa dikatakan self-reward ini adalah salah satu implementasi dari mencintai diri sendiri. Self-reward ini tentu saja merupakan pelajaran yang dapat kita petik dari korelasi antara pandemi corona dengan kesehatan mental, karena self-reward ini sangat mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Sederhananya seperti ini, kita sudah struggle banget dengan kondisi sekarang ini sebagai mahasiswa yang serba terbatas dalam hal pembelajaran maupun pergaulan dan adaptasi sosial dengan teman baru, dalam hal ini lah kita sebagai mahasiswa perlu menghadirkan yang namanya self-reward sebagai bentuk mencintai diri sendiri.
KONKLUSI
Keenam nilai kehidupan esensial tersebut yang saya cukil dari korelasi antara pandemi virus corona dan kesehatan mental dapat dijadikan oleh mahasiswa sebagai bahan ajar dalam kehidupan saat ini dan untuk seterusnya, kelima nilai kehidupan tersebut tentunya memberikan pencerahan terhadap kita, bahwa pandemi ini tak melulu hal negatif yang harus bermunculan di permukaan, tetapi kita juga harus selami dalamnya lautan diri sendiri untuk memancing berbagai pelajaran yang dapat menjadikan kesehatan mental kita tetap waras meskipun dalam kondisi yang serba terbatas sekarang ini.
Oleh karena itu, saya harap kita semua sebagai mahasiswa tetap mawas dalam menjaga kesehatan, kesehatan fisik maupun kesehatan mental, karena yang namanya kesehatan itu mahal. Mudah-mudahan, nilai esensial kehidupan yang saya cukil dari korelasi antara pandemi corona dan kesehatan mental ini bisa menjadi ajang untuk kita mahasiswa lebih berpikir jauh ke depan, karena pada dasarnya kita hanya memikirkan nilai negatif yang terjadi sekarang ini, tanpa menoleh nilai positif yang berkelanjutan di masa yang akan datang.
Sumber:
Rahardjo, Wahyu. Qomariyah, Nurul. Mulyani, Indah. Andriani Inge. (2021). "Social media fatigue pada mahasiswa di masa pandemi COVID-19: Peran neurotisisme, kelebihan informasi, invasion of life, kecemasan, dan jenis kelamin" dan Special issue Covid-19 : Jurnal Psikologi Sosial Volume 19 ( hlm. 142-152). Depok : Fakultas Psikologi Gunadarma.
Penulis: Rio Ananda Andriana
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar