Mengulas Kembali COP26 Glasgow, Konferensi Penting Untuk Penanganan Iklim Global!


Sumber gambar: ukcop26.org


MENGENAL UNFCCC DAN COP

COP atau Conference of the Parties merupakan konferensi tingkat tinggi terkait iklim yang diselenggarakan oleh United Nations dengan mempertemukan negara-negara di seluruh belahan dunia. COP ini bisa diartikan pertemuan para pihak, setelah diratifikasi dan mulai berlakunya UNFCCC atau United Nations Framework Convention on Climate Change. UNFCCC pertama kali dirundingkan melalui United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau yang biasa dikenal dengan KTT Bumi yang diadakan di Rio De Janeiro, Brazil pada tanggal 3-14 Juni 1992 dan UNFCCC mulai diberlakukan sejak 21 Maret 1994.  Tujuan UNFCCC adalah untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Sejak tahun 1995, COP sering dilakukan, yang mana untuk pertama kalinya COP dilaksanakan di Berlin, Jerman pada Maret 1995 untuk kembali membahas UNFCCC. Sampai saat ini COP masih terus diselenggarakan dan kemarin COP ke-26 telah selesai dilaksanakan di tahun 2021.


APA ITU COP26?

COP26 dilaksanakan di kota Glasgow, Skotlandia, yang dimulai dari tanggal 31 Oktober hingga 12 November 2021. Pada COP26 ini sebanyak 197 negara hadir untuk langsung terlibat dalam pengambilan keputusan, selain itu COP26 ini dihadiri oleh berbagai pihak lain bukan hanya para pemimpin negara, yaitu seperti dihadiri oleh diplomat, politisi, LSM, hingga para aktivis. Negosiasi dalam konferensi ini dipimpin oleh Alok Sharma, yaitu mantan Menteri Bisnis, Energi dan Strategi Industrial di Britania Raya. COP26 merupakan ajang evaluasi terhadap Paris Agreement yang dilaksanakan pada tahun 2015. Salah satu isi dari Paris Agreement ini adalah penahanan laju pemanasan suhu bumi agar tidak lebih dari 2 derajat celcius. Oleh karena itu, COP26 merupakan pertemuan penting dalam pembahasan iklim, karena dalam konferensi ini setiap negara dimintai pembaharuannya terkait NDC atau Nationally Determined Contribution yang diratifikasi pada saat Paris Agreement. Adapun beberapa pembahasan dalam COP26, yaitu:

  1. Kepatuhan terhadap tujuan pembatasan kenaikan temperatur global
  2. Peningkatan komitmen atas kebijakan adaptasi
  3. Pengurangan bencana yang berhubungan dengan perubahan iklim
  4. Implementasi komitmen atas mobilisasi USD 100 miliar per tahun
  5. Implementasi Article 6 dari Paris Agreement
  6. Peningkatan transparansi atas kebijakan iklim
  7. Penyusunan satu time frame yang berlaku untuk semua pihak dalam pengumpulan NDC

HASIL DARI KESEPAKATAN COP26

Setiap konferensi tinggi tentunya memiliki hasil akhir berupa kesepakatan dari semua pihak, begitu juga dengan COP26 yang memuat beberapa hasil penting untuk penahanan laju perubahan iklim di masa yang akan datang. Semua hasil dari COP26 Glasgow ini termuat dalam The Glasgow Climate Pact. Hasil dari konferensi iklim terbesar ini cukup membuat kecewa beberapa pihak, adapun hasil yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu, langkah untuk menghentikan penggunaan batubara tidak diperjanjikan secara tegas dalam COP26, dan hasil akhirnya hanya menghapus batubara secara bertahap saja. China dan India merupakan negara yang berkontradiksi atas penghapusan batubara dan mayoritas negara juga menyepakati akan hal ini, padahal semakin lambat penghapusan batubara, semakin banyak beban terhadap kondisi lingkungan yang nantinya akan menyebabkan perubahan iklim. Selain itu, komitmen terhadap Net Zero Emission tidak jelas, bahkan cuma 6% dari negara-negara yang mengikuti COP26 yang menyatakan siap untuk melakukan Net Zero Emission. Dua hasil tadi merupakan kesepakatan yang mengecewakan banyak pihak. Namun, selain dua hasil tadi, berikut beberapa hasil dari kesepakatan COP26 yang tertuang dalam The Glasgow Climate Pact yang perlu kita ketahui.

1. Adaptasi
Adaptasi merupakan hal penting dalam perubahan iklim. Paragraf tujuh The Glasgow Climate Pact menekankan pentingnya untuk meningkatkan aksi dan dukungan aksi adaptasi dari negara maju ke negara berkembang yang mencakup pendanaan, pengembangan kapasitas, dan transfer teknologi untuk meningkatkan kapasitas adaptasi, penguatan ketahanan iklim, dan mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim. Selain itu, Mendesak Para Pihak untuk lebih mengintegrasikan adaptasi ke dalam perencanaan lokal, nasional, dan regional.

2. Mitigasi
Paragraf 22 pada The Glasgow Climate Pact menjelaskan, upaya menahan laju kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1.5°C dan membutuhkan pemangkasan emisi setidaknya 45% pada 2030. Hal ini juga ditekankan terkait dengan kebutuhan mendesak bagi para pihak atau negara untuk meningkatkan upaya mereka untuk secara kolektif dalam mengurangi emisi karbon ini melalui aksi yang dipercepat dan implementasi langkah-langkah mitigasi domestik sesuai dengan Pasal 4 Ayat 2 pada Paris Agreement. Intinya pada point mitigasi ini menekankan setiap negara atas komitmen mitigasi mereka untuk memangkas emisi karbon di tahun 2030 yang telah dicatat pada Perjanjian Paris. Hal ini untuk melindungi, melestarikan dan memulihkan alam dan ekosistemnya.

3. Pendanaan Iklim
Dalam The Glasgow Climate Pact ditekankan, bahwa setiap negara harus memiliki kontribusi yang nyata dan tegas terhadap pendanaan iklim bagi negaranya. Negara maju juga dituntut untuk mendanai iklim untuk negara berkembang, terkhusus yang sudah memiliki dampak serius atas perubahan iklim yang terjadi.

4. Kolaborasi
Kolaborasi antar elemen dalam suatu negara sangat diperlukan, antara pejabat, masyarakat sipil, masyarakat adat, pemuda, anak-anak, dan LSM untuk memenuhi Paris Agreement ini. Selain itu setiap negara juga penting untuk saling berkomunikasi terkait perkembangannya.

Untuk Pakta Glasgow bisa dilihat dan diunduh di sini The Glasgow Climate Pact


BEBERAPA HAL MENARIK DARI COP26

  1. Biden menyindir China dan Rusia tidak hadir, menurut Biden ketidakhadiran Xi adalah kesalahan besar dan ketidakhadiran Putin saat hutan Rusia terbakar “stays mum about this issue
  2. Presiden Jokowi berjanji untuk merestorasi 600 ribu hektar hutan bakau dalam kurun waktu tiga tahun. 
  3. Lebih dari 100 pemimpin negara berjanji menghentikan deforestasi pada 2030, termasuk Indonesia.
  4. Pada saat COP26 berlangsung sekitar 100 ribu orang berdemonstrasi di sekitar Glasgow, termasuk Greta Thunberg.
  5. Sejumlah negara seperti Malaysia, Laos, dan Australia telah mulai memperlihatkan komitmennya dalam meningkat target dekarbonisasi. Namun, para negara yang menyumbang polusi terbesar seperti China, India, dan Arab Saudi melewati tenggat waktu untuk menyelesaikan target mereka.


KONKLUSI

Begitulah sedikit pembahasan ringkas dan umum terkait dengan COP26. Konferensi ini menjadi penting untuk kita ketahui bersama, sebab merupakan KTT terkait iklim terbesar di dunia. Oleh karena itu, yuk kita mulai belajar sedikit demi sedikit untuk melatih kepedulian kita terhadap lingkungan, terutama isu krisis iklim, terima kasih.


REFERENSI DAN SUMBER

(2021), “KTT Bumi – Sejarah, Isu Penting, Kesepakatan dan Sikap”, https://rimbakita.com/ktt-bumi/, diakses pada 6 Juli 2022 pukul 21.00.

Nindya Aldila (2021). "Ini 9 Hal yang Perlu Diketahui Tentang COP 26”, https://ekonomi.bisnis.com/read/20211101/620/1460452/ini-9-hal-yang-perlu-diketahui-tentang-cop26, diakses pada 6 Juli 2022 pukul 22.00.

Maesha Gusti Rianta ST., M.Sc (2021) “Mengenal COP26 Di Glasgow”, https://indonesiare.co.id/id/article/mengenal-cop26-di-glasgow, diakses pada 6 Juli 2022 pukul 22.10.

Stanisiaus Risadi Apresian (2021) “Kesepakatan COP26 Glasgow memuat 4 poin penting, apakah aksi iklim Indonesia sudah sesuai jalur?”, https://theconversation.com/kesepakatan-cop26-glasgow-memuat-4-poin-penting-apakah-aksi-iklim-indonesia-sudah-sesuai-jalur-172206#:~:text=Konferensi%20iklim%20Perserikatan%20Bangsa%20Bangsa,tak%20cukup%20meredam%20krisis%20iklim, diakses pada 6 Juli 2022 pukul 22.30.

Penulis: Rio Ananda Andriana

Komentar

Postingan Populer