Cerpen: Nasihat Di Umur Ke-17 Tahun

Sekilas info
Cerpen berikut merupakan karya pertama aku yang sekaligus mendapatkan apresiasi secara nasional. Ketika tahun 2020, Alhamdulillah cerpen sederhana ini masuk ke dalam 10 Cerpen Terbaik dalam Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional dalam memperingati Pekan Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Purwokerto dan Wadaskelir Publisher. Cerpen ini juga dibukukan pada buku kompilasi yang berjudul Masa Depan Koin. Terima kasih dan selamat membaca!


NASIHAT DI UMUR KE-17 TAHUN

Karya: Rio Ananda Andriana

Aku adalah seorang gadis yang hidup dan tumbuh besar di Perkotaan dan aku terlahir dari orang tua keturunan suku Sunda. Namaku Neng Arum dan biasa dipanggil Neng oleh Keluarga dan Teman-temanku. Dan jujur saja aku tidak bisa  berbahasa Sunda, padahal bahasa yang pertama diajarkan oleh Ibuku adalah bahasa Sunda, mungkin ini adalah pengaruh lingkunganku di Perkotaan yang sehari-hari memakai bahasa Indonesia. 

Ngomong-ngomong, hari ini aku sangat senang karena akan berlibur ke Kampung halaman Orang tua ku atau yang biasa orang Sunda sebut Lembur. Kampung halaman kedua orang tua ku ini terletak di Selatan Provinsi Jawa Barat.

Oh iya,  sudah 5 tahun aku tidak kesana, dikarenakan memang kedua orang tua ku yang sibuk akan pekerjaannya di Kota. Dan setelah sekian lama akhirnya aku bisa kembali lagi berlibur ke Lembur kedua orang tua dan tepat di hari keberangkatanku ini adalah hari ulang tahun ku juga yang ke-17 tahun. Rencananya, siang ini kami sekeluarga akan berangkat ke Lembur.

"Neng, gimana udah beres-beres buat berangkat ke Lembur?" Tanya Ibu kepadaku yang sedang duduk di sofa.

"Udah Bu, Neng udah siap kok. Tinggal berangkat,” Jawabku sambil berdiri menatap Ibu.

"Sippp, tinggal nunggu Bapak. Tadi Bapak lagi ke toilet dulu."

"Siap, Neng langsung masuk mobil aja ya, sekalian naruh barang bawaan."

"Iya Neng."

Aku pun langsung memasuki mobil sambil membawa barang bawaan untuk menginap di kampung nanti, diikuti dengan langkah kaki Ibu yang juga sama akan memasuki mobil dan di belakangnya ada Bapak yang sudah dari toilet dan siap untuk menyetir mobil yang perjalanannya cukup jauh dari Kota Jakarta ini. Di perjalanan, kami bertiga banyak bercerita, terutama tentang tradisi di Lembur kami tersebut.

"Neng, masih ingat nggak ulang tahun Neng itu berbarengan dengan hari apa?" Tanya Bapak kepadaku yang sedang bermain handphone.

"Ingat, masa gak ingat, toh setiap tahun berbarengan dengan ultahku,” Balas Aku sambil menatap Ayah di kaca spion tengah.

"Apa itu?" Ayah kembali bertanya kepadaku.

"Hari Bahasa Ibu, kan?"

"Iya benar, tapi tau nggak di Daerah Sunda apa namanya?" Ibu kali ini yang bertanya sambil memutar balikkan badannya ke belakang untuk menengokku.

"Gak tau Bu, lupa lagi Neng," Jawabku sambil cekikikan.

"Póe Basa Indung, Neng. Gitu aja lupa," Balas Ibuku.

"Oh iya, Póe Basa Indung."

"Nah, nanti malam di Kampung kita biasanya akan merayakannya dengan berbagai pertunjukkan seni asli dari Tanah Sunda."

"Apa aja Bu?, Neng lupa lagi,” Tanyaku penasaran

"Lihat aja nanti malam Neng," Ucap Bapakku

"Ishhh, dasar Bapak," Balasku sambil menepuk bahu Bapak yang sedang menyetir.

"Nanti juga diceritain sama Abah dan Emih," Pungkas Bapakku.

__________

Setelah kami melewati banyak Perkotaan, Pedesaan ataupun perkampungan dan juga disuguhkan dengan berbagai  pemandangan yang indah dan menawan, Akhirnya kami sampai di depan Lembur setelah menempuh jarak 5 jam perjalanan. 

Perlahan mobil kami melewati Gapura yang bertuliskan "Wilujeung datang di Lembur Sukarasa" di tembok bagian atasnya. Setelah melewati gapura mataku tertuju pada rumah-rumah yang berada di sisi kanan dan kiri yang banyak dihiasi oleh berbagai ornamen-ornamen khas Daerah Sunda, seperti karakter pewayangan ataupun dihias dengan samping bermotif batik Sunda seperti batik mega mendung. Aku sudah tahu bahwa ini sebagian dari tradisi di Daerah perkampungan Ini untuk memperingati Póe Basa Indung. 

Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang, dari kejauhan rumah Abah dan Emih sudah terlihat, Aku masih ingat dengan rumah itu meskipun sudah lama tak mengunjunginya, rumah itu masih sama seperti dulu tak ada yang berubah. Perlahan Bapak memarkirkan mobilnya di halaman rumah Abah dan Emih.

Di luar terlihat Abah dan Emih sudah siap untuk menyambut kedatangan Kami yang sudah 5 tahun tak bertemu. Kami mulai berjalan menghampiri Mereka berdua sambil membawa barang bawaan.

Bapakku memulai pertemuan itu dengan ucapan salam kebahagiaan, karena dapat bertemu kembali  dengan kedua orang tuanya, di sinilah momen haru mulai tercipta. Ibu juga menyalami mertuanya dan disusul denganku. Lalu, kami bertiga dipersilahkan masuk ke rumah oleh Abah dan Emih. Berbagai pertanyaan pun ditanyakan oleh Abah dan Emih kepada kami dari karir Ayah dan Ibu di Jakarta hingga dengan cita-citaku setelah lulus sekolah nanti. Kami pun bertanya juga kepada Abah dan Emih terkait kondisi mereka selama tinggal di Kampung ini. Selain itu, kami juga diberitahu bahwa nanti malam akan diadakan atau diselenggarakan Acara tahunan untuk memperingati Hari Bahasa Ibu atau Póe Basa Indung dan kami wajib melihat acara tersebut yang akan diadakan pada malam hari nanti.

__________

Malam telah tiba, Abah dan Emih mengajak Kami pergi ke Lapangan utama Kampung ini untuk ikut serta memeriahkan Póe Basa Indung pada tahun ini. Kami pun berjalan untuk menuju Lapangan tersebut dan benar saja di sepanjang jalan banyak sekali warga yang antusias untuk memeriahkan acara tahunan ini. 

Kami pun sampai di Lapangan, panggung besar pun menjadi tempat untuk nanti ditampilkannya para seniman atau tokoh-tokoh Sunda. Di Atas atap panggung tertulis kalimat “Miéling Póe Basa Indung” dan dibawahnya ada terjemahan ke dalam Bahasa Indonesianya, yaitu “Memperingati Hari Bahasa Ibu”, Pembawa acara terlihat sudah menaiki panggung tanda bahwa akan dimulainya acara ini. Aku, Bapak, Ibu, Abah dan Emih pun duduk di kursi yang sudah disediakan. Pembawa acara pun memulai acara tahunan ini. Acara dimulai dengan sambutan Kepala Desa Sukarasa.

“Para hadirin ti kampung Sukarasa anu ku kuring dipikahormat, pikeun miéling Póe Basa Indung ieu, panginten kuring moal nyarios seueur, ngan ukur kuring bakal nyebarkeun hal anu utami, nyaéta ngeunaan Basa Sunda. Basa Sunda mangrupakeun Bahasa urang anu kedah di budayakeun sareng lestarikeun ka murangkalih sareng incu urang.  supados Murangkalih sareng Incu urang tiasa nyarios basa Sunda, sareng urang salaku turunan Sunda kedah bangga ku basa Sunda. Mung sakitu anu tiasa disampaikeun ku Kuring, hatur nuhun. Salam Budaya!”

Kepala Desa pun selesai dalam menyampaikan pidato sambutannya, lalu dilanjut dengan berbagai pertunjukkan dari Seniman Sunda. Namun, Aku tak mengerti sama sekali dengan apa yang dibicarakan Kepala Desa tadi, oleh karena itu Aku berinisiatif untuk menanyakan inti Pembicaraan tersebut kepada Emih yang ada disebelahku.

“Mih, Neng mau nanya dong,” Ucapku kepada Abah yang sedang fokus melihat pertunjukan Wayang Golek.

“Ehhh Neng, mau nanya apa?” Balas Emih setengah kaget.

“Gini mih, Neng tadi gak ngerti apa yang diucapkan sama Kades. Nah, Neng mau tanya apa inti dari yang disampaikan oleh Kades tadi?” 

“Dikira Emih Neng geulis ngerti.”

“Kan si Neng gak bisa Basa Sunda, Mak,”  Ungkap Bapak kepada Emih.

“Wah iya, bener apa kata si Bapak, Neng?”

“Bener Mih, emang Neng gak bisa Basa Sunda,” Jelasku pada Emih yang kelihatannya aneh saat Bapak memberitahunya bahwa Aku tidak bisa berbahasa Sunda.

“duh, piraku Incu Abah teu tiasa Basa Sunda,” Abah ikut nimbrung kali ini.

“Muhun Abah, emang si Neng mah teu tiasa eun, da meren keur téh jarang kadieu ditambih borojol gé di Kota, sanés di Désa.” Ucap Ibuku, seketika mereka semua tertawa ketika Ibu selesai berbicara, entah apa yang Mereka bicarakan yang jelas Aku tidak paham.

“Tapi, pami Bahasa nu  pertama kali diajarkeun mah Basa Sunda, Mak,” Lanjut Ibuku.

“Oh kitu nya, keunlah teu kunanaon, ngan kade lamun engke kadieu deui kudu geus paham Basa Sunda Neng geulisna nya,” Ucap Emih sambil mengelus rambutku.

Aku masih tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan yang jelas jawaban dari pertanyaanku belum juga dijawab oleh Mereka.

“Jadi gimana jawabannya Mih?” Sahutku.

“Iya Neng, jadi inti dari apa yang disampaikan oleh Kades, yaitu bahwa kita sebagai Orang Sunda harus bisa dalam berbahasa Sunda apalagi jika bahasa yang pertama diajarkan oleh Ibu bahasa Sunda. Nah, terus wajib harus bangga juga ketika kita berbicara pakai bahasa Sunda. Dan Emih mah nitip ka Neng geulis, masa sudah 17 tahun belum bisa juga bahasa Sunda kan harusnya malu ya?, tapi tak apa, karena belajar itu tidak mengenal usia, paham kan?” Jawab Emih kepadaku dengan sangat jelas.

Aku mengerti dengan ucapan Emih, apa yang telah disampaikan Emih cukup menamparku di usiaku yang ke-17 tahun ini, memang Aku ini terlalu mengabaikan bahasa pertama yang diajari oleh Ibu kepadaku, bahasa keturunanku sendiri bahasa Sunda.

“Paham Mih, makasih banyak Mih atas nasehatnya, cukup mengingatkan Neng untuk selalu melestarikan, menjaga, dan mencintai Basa Sunda apalagi di usia Neng yang ke-17 tahun ini.”

Emih hanya mengangguk sambil tersenyum kepadaku, begitu pula dengan yang lainnya. Di usiaku yang ke-17 tahun ini ternyata bukan kado yang ku dapat, tapi nasehat yang bermanfaat. Sekarang aku mengerti apa itu arti dari Hari Bahasa Ibu dan bagaimana makna yang terkandung di dalamnya.


Catatan:

*Lembur : kampung halaman.

*Geulis : Cantik.

*Abah : Kakek.

*Emih : Nenek.

*Miéling Póe Basa Indung : Memperingati Hari Bahasa Ibu.

*Wilujeung datang di Kampung Sukarasa : Selamat datang di Kampung Sukarasa.

*Para hadirin ti kampung Sukarasa anu ku kuring dipikahormat, pikeun miéling Póe Basa Indung ieu, panginten kuring moal nyarios seueur, ngan ukur kuring bakal nyebarkeun hal anu utami, nyaéta ngeunaan Basa Sunda, Basa Sunda mangrupikeun Bahasa urang anu kedah dibudayakeum sareng lestarikeun ka murangkalih sareng incu urang.  supados Murangkalih sareng Incu urang tiasa nyarios basa Sunda sareng urang salaku turunan Sunda kedah bangga ku basa Sunda, mung sakitu anu tiasa disampaikeun ku Kuring, hatur nuhun. Salam Budaya! :

Para Hadirin warga desa sukarasa yang saya hormati, dalam rangka memperingati hari bahasa ibu ini mungkin saya tidak akan bicara banyak hanya saja saya akan menyampaikan point utama yaitu perihal bahasa sunda, bahasa sunda itu bahasa kita yang patut kita budayakan dan lestarikan kepada anak cucu kita, jangan sampai anak cucu kita tidak bisa berbahasa sunda dan kita sebagai orang keturunan sunda harus bangga dengan bahasa sunda.cukup segitu yang dapat saya sampaikan oleh Saya, terimakasih. Salam budaya!

*Aduh, piraku Incu Abah teu tiasa Basa Sunda : Aduh, masa Cucu Kakek tidak bisa Bahasa Sunda.

* Muhun Abah emang si Neng mah teu tiasa eun, da meren keur téh jarang kadieu ditambih borojol gé di Kota sanés di Désa : Iya Kakek, memang si Neng tidak bisa, mungkin karena jarang kesini ditambah lahirnya juga di Kota bukan di Desa.

* Tapi, pami Bahasa nu  pertama kali diajarkeun mah Basa Sunda Mak : Tapi, kalau Bahasa yang pertama kali diajarkan yaitu Bahasa Sunda Mah.

* Oh kitu nya, keunlah teu kunanaon, ngan kade lamun ngke kadieu deui kudu geus paham Basa Sunda Neng geulisna nya : Oh begutu ya, tidak apa, tapi awas kalau nanti kesini lagi harus sudah paham Bahasa Sunda Neng cantikna ya.

Komentar

Postingan Populer