CERPEN: Kertas Berkode 5 dan Mereka Yang Berhelat


KERTAS BERKODE 5 DAN MEREKA YANG BERHELAT

Karya: Rio Ananda Andriana


Indonesia, Tahun 2078. 

    Aku Gres, seorang wanita yang berprofesi sebagai Koordinator Direktorat Penyidikan di Komisi Pemberantasan Korupsi. Selain sebagai seorang pegawai KPK, aku juga merupakan istri dari seorang suami yang bekerja sebagai Staf di Kementerian Teknologi dan Informasi. Namanya, Leon. Kami berdua belum dikaruniai satu anak pun, sebab kami baru menikah tiga bulan yang lalu. Kebetulan sore ini cuaca langit terlihat cerah dengan lembayung senja yang berwarna jingga dipadu kemerah-merahan. Aku duduk terdiam di sebuah kursi yang ada pada balkon rumah. Setiap sore aku selalu anteng melihat gedung-gedung pencakar langit yang bentuknya unik-unik, kebanyakan berbentuk spiral, tak sedikit juga yang berbentuk oval dengan ratusan lantai. Selain itu, daya tarikku untuk selalu ada di balkon rumah setiap sore adalah melihat orang-orang yang sedang asik mengendarai motor dan mobil terbang, beberapa juga ada yang dengan santainya memakai hoverboard atau skateboard terbang, biasanya anak muda. Ada juga yang menumpangi transportasi umum, seperti hyperloop yang bentuknya menyerupai kapsul obat, tetapi sangat besar sekali dan suaranya menderu agak keras. Begitulah suasana sore hari kota metropolitan di tahun 2078. 

    Di zaman ini Indonesia sudah bertumbuh pesat dengan berbagai terobosan dan inovasi melalui teknologi canggihnya. Tak heran jika motor, mobil, skateboard, atau yang lainnya terbang memenuhi ruang angkasa. Pemandangan tersebut sudah biasa untuk dilihat, apalagi di kota-kota metropolitan. Robot-robot Artificial Intelligence juga banyak ditemui, biasanya ada di persimpangan jalan untuk menertibkan lalu lintas dan tentunya ada di setiap markas TNI dan POLRI. Bahkan sekarang pun di beberapa lokasi ada alat teleportasi, seperti di Istana Negara dan Gedung Kementerian Luar Negeri. Hal tersebut untuk mempermudah melakukan diplomasi dengan Negara lain. Indonesia juga sudah dicap sebagai salah satu Negara paling maju di dunia oleh PBB. Sekalipun sudah maju, tetapi ideologi, sistem pemerintahan, bentuk negara, dan sistem hukum Indonesia tidak berubah. 

    Aku masih termenung menatap suasana angkasa yang dipenuhi kendaraan terbang. Lalu lintas nya pun rapi, setiap rambu ditaati oleh pengendara. Sekarang transportasi darat dan air kalah saing dengan transportasi udara. 

   Tring tring tring tring … 

   Tiba-tiba kacamata hologram yang tertempel di kepalaku berbunyi, tanda ada seseorang yang mencoba menghubungiku. Lantas, aku gerakan lengan kanan yang sedari tadi menahan dagu. Aku atur posisi kacamata hologram tepat di kedua mataku. Lalu, aku tekan tombol on yang berada di kanan kacamata hologram tersebut. Keluarlah tampilan hologram tiga dimensi di depan kedua mataku. 

    "Halo, Pak. Ada yang bisa dibantu?" ternyata itu atasanku yang menghubungi. Dia adalah Deputi Bidang Penindakan KPK, yang memang langsung membawahi Direktorat Penyidikan. Kyu, namanya. Beliau keturunan Jepang. Aku biasa memanggil beliau Pak. Kalau disatukan menjadi Pak Kyu, terdengar memuaskan memanggil Pak Kyu untuk aku yang kesal kepada beliau. Aku sering gerutu, karena pekerjaan yang diberikannya kepadaku terkadang tidak relevan dengan posisiku saat ini, sebagai Koordinator Direktorat Penyidikan. 

    "Ada. Ini sudah darurat, Gres,” ucap beliau sambil tersengal-sengal. Sepertinya kali ini Pak Kyu memberikan pekerjaan yang sesuai dengan posisi aku. Namun, Pak Kyu masih tetap saja membuatku menggerutu. Hari ini seharusnya libur, sebab tanggal sedang merah, terlebih beliau menghubungiku menjelang malam, tapi tak apa. Kelihatannya ada kasus yang harus diselesaikan secepatnya. 

    “Siap laksanakan, Pak. Aku akan segera ke gedung sekarang.” Pungkas ku sambil pergi menuruni tangga rumah. Langkah kaki membawaku untuk pergi ke garasi kendaraan. Kali ini aku akan menyetir mobil terbang untuk pergi ke gedung, supaya tidak memakan banyak waktu di perjalanan. Di garasi ini, semua kendaraan aku simpan dari mulai motor darat, motor terbang, hoverboard, hingga mobil terbang yang akan aku pakai sekarang. Aku menekan tombol di tembok dekat pintu biasa keluar garasi untuk membuka pintu di bagian atas. Lalu, aku merogoh saku celana mengambil kartu digital untuk mengaktifkan mobil terbang berwarna putih milik ku ini. Mobil sudah aktif, tanpa menunggu berlama-lama aku langsung menaikinya dan mulai terbang dengan menekan tombol up di sebelah kiri setir kemudi. Secepat mungkin mobil dipacu untuk sampai ke gedung. Jarak rumah ke gedung KPK lumayan jauh, tetapi dengan menggunakan mobil terbang, biasanya memakan waktu hingga 15 menit perjalanan. Namun, sialnya lalu lintas udara sedang penuh-penuhnya. Ya, hal ini wajar, sebab sore menuju malam biasanya orang-orang pulang ke rumah, setelah seharian menghabiskan waktu di luaran. Tampak para robot Artificial Intelligence yang memiliki warna coklat pun terlihat sangat sibuk untuk mengatur lalu lintas udara. 

    Gedung KPK sudah mulai terlihat oleh pandanganku, Bentuk dari gedung ini tidak berubah dari dulu, warnanya pun tetap sama, merah-putih, Mungkin yang membedakan adalah fasilitasnya yang sekarang semakin terdepan, contohnya ada robot Artificial Intelligence di depan gedung ini untuk menjaga 24 jam nonstop. Aku mulai melakukan landing di halaman parkir. Setelah beres memarkirkan mobil terbang kesayanganku tersebut, aku langsung setengah berlari untuk menemui Pak Kyu yang berada di ruangan kantornya, lantai 15. Kali ini aku menaiki lift super, yang mana tiga kali lebih cepat daripada lift normal. Dalam 5 detik aku pun sampai di lantai 15. Bergegas aku pergi ke ruangan Pak Kyu. Terlihat Pak Kyu sudah menungguku di depan ruangannya. Langsung saja aku menyapa Deputi Penindakan KPK yang sering membuatku gerutu tersebut. “Halo Pak,” sapa aku singkat kepada beliau. 

    “Hai, kamu datang juga. Pimpinan tadi sore mengabari, bahwa ada indikasi kuat terjadi korupsi pada uang negara, jumlahnya sampai ratusan triliun rupiah,” jelas Pak Kyu tanpa basa-basi terlebih dahulu. 

    Di sini aku refleks menghela napas dan terdiam sejenak untuk beberapa detik. Maksudku, mana mungkin Indonesia kembali terjadi kasus korupsi, padahal sudah berpuluh-puluh tahun negara ini bersih dari yang namanya pejabat mencuri uang rakyat, bagai tikus kelaparan yang menyantap makanan tuannya yang telah memberikan ruang untuk hidup. 

    “Sebentar, Ini serius, Pak?” tanyaku yang masih terheran-heran tidak percaya. 

    Pak Kyu sedikit tersenyum kepadaku, tetapi dengan raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran besar. “Tentu saja, Gres. Sulit sekali dipercaya, tapi inilah kenyataannya. Ternyata bangsa kita masih lemah dalam hal kejujuran. Lamanya bertahan suatu bangsa dan kemajuan pada bangsa tersebut tidak menjamin akan tetap baik-baik saja,” jelas beliau kepadaku sambil menepuk-nepuk bahu kananku.

    “Iya pak, baiklah kalau begitu. Aku pastikan kejadian ini tidak akan bocor terlebih dulu ke media, guna menjaga stabilitas kedamaian di Indonesia,” jawabku kepada beliau. 

    Raut muka beliau tampak menaruh harapan penuh kepadaku untuk segera menyelesaikan kasus korupsi ini, sementara aku memegang tanggung jawab besar dalam penyelesaian kasusnya. "Baik. Jangan lupa pakai strategi kertas berkode 5, Gres. Sepertinya akan cocok menggunakan strategi pamungkas tersebut pada kasus ini," pungkas beliau.

    Aku mengiyakan kalimat terakhir yang beliau lontarkan. Baik. Strategi berkode 5 akan jadi senjata ku untuk beraksi. Aku menyegerakan diri untuk ke rumah terlebih dahulu untuk menemui suamiku dan menyiapkan beberapa hal untuk memulai aksi dalam menyelesaikan kasus ini. 

    Sesampainya di rumah, ternyata suamiku belum terlihat merebahkan dirinya di kasur berwarna putih polos, mengisyaratkan dia belum pulang dari kantornya. Aku pun mencoba untuk menghubungi dia dengan kacamata hologram. Tak perlu lama untuk menunggu dia menjawab panggilan, sebab suamiku ini termasuk golongan orang yang cepat merespon. "Halo, Sayang. Kamu masih di kantor?" tanyaku kepada dia, sambil mengambil posisi duduk di atas kasur. 

    "Hai Sayang. Iya, aku masih di kantor masih ada keperluan dengan atasan. Dan sepertinya aku akan menginap di kantor," balas dia. 

    Aku pun mengiyakan dia dan langsung mengakhiri dengan ucapan i love you. Akhir-akhir ini dia sering menginap di kantor. Serasa ingin marah kepadanya, tapi tak apa sepertinya ada urusan yang cukup penting belakangan ini di kantor Kementerian Teknologi dan Informasi. Aku menyadari bahwa kami memang pasangan suami-istri yang sibuk dengan urusan pekerjaan, sampai-sampai aku lupa dengan rencana yang sudah kami diskusikan untuk berusaha lebih lagi dalam menghasilkan keturunan. Terlebih dengan adanya kasus sekarang ini, membuat sebagian isi yang ada di kepalaku mendadak lupa. 

    Tidak berpikir panjang lagi, kedua kaki ku langsung melangkah menuju ruang kerja rumah di lantai dua untuk membuat strategi. Ruangan berukuran sedang ini adalah tempat ternyaman untuk memunculkan segala ide di otak ku. Aku memulai strategi kertas berkode 5 dengan mengambil beberapa kertas kosong yang ada pada arsip kayu di sebelah meja. Jujur, setelah sekian lama akhirnya aku menggunakan strategi kertas berkode 5 lagi. Strategi pamungkas dari KPK. Menurutku, Pak Kyu sudah tepat memberikan masukan kepadaku untuk menggunakan strategi ini. Setelah beberapa kertas terhampar di meja, aku langsung menuliskan 5 sila dalam pancasila. Di sini aku menuliskan hubungan antara kelima sila dengan pentingnya untuk menghindari korupsi. 

    Sila pertama, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, yang mana jika kita melakukan korupsi, sama dengan kita melawan Tuhan. Sila kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila ini mengisyaratkan, bahwa orang yang melakukan korupsi tidak berprikemanusiaan dan tidak berlaku adil dengan mencuri uang rakyat. Sila ketiga, yakni Persatuan Indonesia, yang mana manusia sama derajatnya dihadapan hukum, dan korupsi berarti sudah melanggar sila dan hukum Indonesia. Sila keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, sila ini mempunyai makna segala sesuatu termasuk yang berhubungan dengan uang harus transparan. Jikalau melakukan korupsi berarti itu atas kehendak pribadi atau segelintir orang, bukan dengan musyawarah dan itu melanggar. Dan sila terakhir alias kelima, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ketika melakukan korupsi, berarti orang tersebut telah melakukan ketidakadilan dengan tidak memberikan hak-hak kepada rakyat maupun pemerintah. 

    Begitulah tulisan yang dituangkan dalam beberapa kertas. Tulisan ini kembali mengingatkanku untuk selalu mengamalkan etika pancasila sebagai rakyat Indonesia. Tulisan dalam beberapa kertas ini nantinya akan disebar pada beberapa titik di semua gedung lembaga pemerintahan. Nantinya setiap orang yang membaca kertas ini akan langsung terdeteksi, apakah orang tersebut telah melakukan tindak korupsi atau tidak. Keren bukan? Beginilah perkembangan teknologi Indonesia di tahun 2078. Selembar kertas pun bisa mendeteksi koruptor, karena dalam kertas tersebut tertanam nano chip yang langsung terhubung dengan jaringan pada hologram di ruangan tempat penyidikan. Ketika koruptor telah terdeteksi, maka hologram akan menampilkan notifikasi untuk memberitahu, sederhananya begitu. 

    Keesokan harinya aku langsung menyebar kertas berkode 5 tersebut ke semua gedung lembaga pemerintahan. Aku yakin akan lama menunggu koruptor tersebut membaca tulisan di kertas tersebut. Kebanyakan pasti akan cuek dan melewati tulisannya. Tak apa, nanti juga akan ada pemberitahuan, ucapku dalam hati. 

    1 minggu setelah kertas disebar. 

    Aku dan Pak Kyu ada di ruangan kantor, tempat kami untuk menunggu notifikasi hologram muncul. Pegawai lain sedang cuti, katanya sedang mengikuti kegiatan internasional bersama PBB. Sedari tadi aku dan Pak Kyu diam tanpa kata. Keheningan menyelimuti ruangan ini. Kami berharap-harap notifikasi itu muncul sesegera mungkin. Takutnya media mulai memberitakan. Alhasil, rakyat mulai cemas dan indeks kedamaian negara akan turun. Sungguh, aku tak mau itu terjadi.

    Seketika keheningan terpecah. Tiba-tiba suara yang kami inginkan sejak seminggu yang lalu muncul. Aku dan Pak Kyu pun sontak langsung berdiri dari posisi yang sedari tadi duduk di kursi berwarna hitam. Aku langsung membuka notifikasi pada hologram. Seketika tubuhku menjadi kaku, tatapanku kosong. Aku kaget, tapi tidak bersuara. Serasa sedang bermimpi, tapi aku tahu ini bukan mimpi. Pak Kyu juga mendadak, seperti patung untuk beberapa detik. Kamu tahu? Ternyata notifikasi yang muncul adalah nama suamiku. Sebagai pembuktian, aku dan Pak Kyu pun beranjak untuk pergi ke kantor suamiku. Namun, ketika kami sudah melangkah, tiba-tiba suara berisik tak beraturan datang menghampiri ruangan. Suaranya begitu berisik, semakin dekat semakin keras. Dan sampai pada akhirnya ada yang membuka pintu ruangan kami.

    “Selamat ulang tahun, sayangku.” Perawakan yang aku lihat. Suara yang aku dengar. Ternyata itu Leon, suamiku. Dia bersama pegawai lain memasuki ruangan. Leon Langsung memelukku dengan erat. Kali ini aku hanya bisa diam membisu, sambil merasakan pelukan hangat dari dia. Air di mataku entah mengapa mulai bercucuran, ada rasa haru menyelimutiku. Dia menjelaskan, bahwa semua yang telah terjadi itu drama dan sudah diatur dengan matang bersama Pak Kyu. Dari mulai sering tidur di kantor hingga kasus korupsi yang benar-benar serius untuk aku selesaikan. Mereka berhelat, sedangkan dengan mudahnya aku terkecoh. Jujur aku tak ingat sama sekali bahwa hari ini ulang tahunku. Namun, tak apa, justru tahun ini adalah ulang tahun terbaikku. Kamu harus tahu, Leon menghadiahkanku sebuah robot Artificial Intelligence yang selama ini aku inginkan. Terima kasih suamiku, Leon. Hari ini benar-benar berkesan bagiku. Aku banyak belajar semua hal. Dan harapanku di ulang tahun ini, semoga aku tidak akan pernah mendapati kasus korupsi di Indonesia. Semoga. 

    Di tengah suasana haru dan gembira ini, tiba-tiba pimpinan KPK menghubungiku melalui kacamata hologram, lantas aku segera menjawabnya.

    “Gres, darurat. Cepat ke lantai 20, ini sudah kacau, uang negara yang berjumlah triliunan sudah raib. Cepat!” semua orang sontak panik ketika pimpinan berucap seperti itu sambil tersengal-sengal. Aku dan lainnya berlari menuju lantai 20, tapi berbeda arah, termasuk Suamiku dan Pak Kyu. Aneh sekali.



- TAMAT -

Komentar

Postingan Populer